Istri Menolak Jima’ dengan Suami

TANYA : Bolehkah seorang istri menolak keinginan suami untuk berjima’ saat si istri sedang kurang sehat, sedangkan suami sangat berhasrat untuk melakukannya?

JAWAB : Kalau hal tersebut bermudarat terhadap istri, suami tidak boleh memaksa, sedangkan istri boleh menolak apabila memang tidak mampu melayani. Akan tetapi, kalau masih mampu melayani dan tidak bermudarat, jangan menolak. Atau solusi lain, dibolehkan masturbasi dengan tangan istri.

Dikutip dari http://tanyajawabringkas.com

Kebutuhan akan Ilmu

Al-Imam Ahmad berkata ; Manusia membutuhkan ilmu daripada makan dan minum. Karena seseorang membutuhkan makan dan minum sehari sekali atau dua kali. Sedangkan kebutuhannya terhadap ilmu selama tarikan nafasnya. [Kitab Madarijus Salikin karya Ibnul Qayyim]

Kondisi Surga

“(Wahai penduduk surga), sungguh kalian akan selalu sehat & tak akan pernah sakit selamanya; sungguh kalian akan hidup & tidak akan mati selamanya; kalian akan dalam usia muda & tidak akan pernah tua selamanya; serta sungguh kalian akan merasakan kenikmatan & tidak akan bersedih selamanya.” (HR. Muslim)

Bersyukur & Bersabar

“Sungguh menakjubkan perkara seorang muslim, apabila ia mendapatkan kenikmatan maka ia bersyukur dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa suatu musibah ia pun bersabar dan itu pun merupakan suatu kebaikan baginya” [H.R. Muslim dari sahabat Shuhaib Ar-Rumy]

Kelebihan Isa Putera Maryam (5)

Hadis riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu : Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali telah disentuh oleh setan sehingga ia menangis menjerit karena sentuhan setan tersebut kecuali putra Maryam dan ibunya (HR. Bukhari dan Muslim)

Rusaknya Amalan

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada perasaan ujub & terlalu memandang jasa diri sendiri”

[Dikutip dari kitab al-Fawa'id]

3 Macam Nikmat

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan macam-macam nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya:
(1) Nikmat yang telah didapat & telah diketahui hamba-Nya
(2) Nikmat yang di tunggu-tunggu & diharap-harap oleh hamba-Nya
(3) Nikmat yang telah didapat hamba tapi dia tidak merasakannya

[Kutipan Majalah Asy-Syariah edisi 059]